BIARKAN AIR MATA ITU MENITIS










Menitik air mata, mengalir membasahi pipi.
Jernih bagaikan butiran embun pagi yang berkilauan diterpa sinar mentari.
Menghanyutkan rasa kerana kedukaan, hati pun menjadi lara akan kesedihan.
Lalu mata meluapkan derai tangisan, hingga tercipta hati luruh dalam kedukaan.
Air mata kadang bercerita akan indahnya kisah cinta dan bahagia.
 Namun tak jarang tercurah dan hanyut dalam sedu sedan penyesalan belaka.
 Kerananya, betapa banyak untaian kisah yang tercipta dari titisannya.

Air mata ibarat hujan yang jatuh dari langit
pada dahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang.
 Titisannya melunakkan hati dan jiwa yang keras membatu,
 lalu menciptakan rasa empati dan peka terhadap ciptaan-Nya.
Kegersangan hati dan jiwa, serta qalbu yang merekah kerna berbagai nista perlahan pupus.
 Hanyut, bagaikan debu-debu yang terbawa arus oleh untaian do‘a dalam butir-butir air mata
yang dimunajatkan kepada Sang Pencipta.


Mahal...
Sungguh sangat mahal harganya ttisan air mata yang mengalir saat khusyuk menghadap-Nya.
 Hingga salah satu dari dua tetesan yang disukai RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam
adalah air mata yang mengalir kerana rasa takut
dan rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Beaginda,
yang terjaga dari dosa bahkan selalu menumpahkan air mata
karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya. 


Seorang mujahid serta mujaddid yang pernah hidup di dunia ini,
 Hasan al Banna, juga menguraikan air matanya karena memikirkan ummat.
 Betapa keinginannya agar ummat mengetahui
bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri.
Hingga ia pernah berkata, “Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.” 


Betapa bangganya Sang Imam ketika jiwa-jiwa ini gugur
 sebagai penebus kehormatan mereka,
 atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam. 
Rasa cinta itu mengharu-biru hati, menguasai perasaan
bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata
hingga membuat beliau memeras air matanya.
Air bening itu lalu mengalir karena menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik ummat ini.
Sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan
serta pasrah pada ketidakberdayaan.

Dan... Apa yang terjadi pada diri ini?
Tatkala lahir menangis, namun orang-orang tercinta
tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita.
Namun, mereka pun menangis pilu saat kita tutup usia.
Saat diri akan beranjak pergi, apakah kita juga turut menangis
ataukah mengulas senyum bahagia kerana akan berjumpa dengan-Nya? 


Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia fana? 
Apakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang,
 bahkan oleh orang-orang terdekat kita?
 Lalu setelah itu hanya pasrah, rebah di bantalan tanah,
cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba. 


Duhai Sang Pemilik Jiwa... 
Jadikanlah tetesan air yang jatuh dari sudut mata adalah air mata berharga,
hingga mampu membersihkan hati yang pekat ini
 untuk mudah dicelupi cahaya-Mu, Ilahi Rabbi.

Dan, jangan Engkau jadikan air mata ini kelak
berubah menjadi tetesan darah karena lelah berteriak,
 menangis dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat. 


Sungguh... Bersimbah titisan air mata di dunia fana
adalah lebih baik daripada genangan air mata bercampur darah saat di akhirat nanti.
Menangislah sebelum datang hari dimana kita semua akan ditangisi,
 karena saat itu pasti akan terjadi. 


Telah tertutuplah pintu surga,
Diketuk keras tak akan terbuka,
Walau pekik ingin memecah langit ,
Walau air matanya berganti darah Ya Allah,
 yang manusia harus takuti,
Angkatlah kami dari lembah maksiat, Sampai kami keluar dari dunia,
 Tak bawa beban walau sebesar zarrah.




Wallahu Alam,,



Tiada ulasan:

Terdapat ralat dalam alat ini